Kakiku Penentu Masa Depanku
Embun
kian basah bertabur di sela-sela dedaunan, angin seakan menari lembut,
bebatuan, tanjakan menghiasi tiap meter perjalanan, kayuhan sepedaku ku
percepat ketika ku tau hari mulai pagi dan fajar mulai menyingsing tersadar
bahwa sepedaku telah melaju beberapa kilometer dari kediamanku. Inilah
rutinitas yang ku jalani setiap harinya dalam beberapa tahun ini demi sebuah
cita-cita yang mungkin hanya ada dalam khayalku. Tak ada yang terasa berat
karena ini adalah ikhlas dari lubuk hatiku, tanggung jawabku sebagai seorang
anak sepasang petani di pelosok desa yang berharap bisa berkuliah di kota
membuat kokoh hati dan mental untuk tetap terus berjuang. “ Siti! “ warga desa
memanggil “ sepagi ini mau sudah berangkat kesekolah? Apa tidak kepagian? “. “
tidak bu, saya sudah biasa lagi pula lebih baik saya berangkat pagi jadi saya
tidak akan tergesa-gesa”. “ bukankah sekolah sudah tidak aktif lagi kan kalian
sudah selesai ujian”. “ iya, memang benar bu saya kesekolah hanya mengurus
tentang pendaftaran kuliah, permisi dulu ya bu
saya takut kesiangan”. Ku lanjutkan perjalananku menuju sekolah kuharap
hari ini ada kabar gembira dari sekolah mengenai kuliahku.
Setiba
di sekolah pagi itu tepatnya pukul 07.10 pagi, ku berhentikan kayuhanku di
depan jalan kecil yang hanya muat satu orang beserta sepeda jika ada yang ingin
mengeluarkan sepeda salah satunya harus mengalah begitulah kondisi parker
sepeda di sekolahku sungguh memprihatinkan bukan?, kalah dengan parkir sepeda
motor dewan guru dan anak-anak orang berduit yang juga memakai sepeda motor
kesekolah. Namun ini bukan halangan besar untukku bersekolah, ku sosori jalan
menuju kelas melewati kantor guru, melewati toilet dan menyapa petugas
kebersihan sekolah adalah hal yang tidak pernah ku lewatkan setiap harinya. “
selamat pagi mas, semoga hari ini berkah ya “. “ iya dik siti , begitu juga
denganmu”. Tiba-tiba dari arah
berlawanan terdengar suara serak-serak basah dengan nafas ngos-ngosan tidak
salah lagi perawakan tinggi, kurus dengan jilbab khas beliau berbolang dan berkacamata
bu dilla itulah panggilan untuk guru kesayanganku wali kelasku sendiri orang
yang selama ini mati-matian mengurusiku agar aku tetap bisa bersekolah dan
sekarang entahlah apakah yang beliau perbuat untuk membantuku masuk keperguruan
tinggi. “ siti..siti..siti..”. “ iya bu, mengapa ibu terlihat begitu
terburu-buru? Apakah ada hal ingin ibu sampaikan kepada saya?”. “ kalau ibu
memanggilmu berarti ada sesuatu yang mendesak yang harus ibu beritahukan
padamu, ini kamu fotocopy dulu seluruh nilai raportmu di koperasi sekolah”. “
untuk apa bu? Bukankah minggu kemarin ibu juga meminta saya memotocopy nilai
raport?”. “ sudah simpan saja dulu pertanyaanmu sekarang cepat kekoprasi
lakukan yang ibu suruh tadi, ok”. Dengan heran dan bingung ku lakukan saja apa
yang diminta oleh bu dilla walaupun sebenarnya maksudku datang kesekolah hari
ini adalah menemui beliau untuk menanyakan masalah beasiswa, apakah semua ini
harus ku kubur dalam-dalam ? akankah mimpiku itu tidak akan menjadi nyata ? aah
mengapa aku berpikiran seperti ini? Mengapa pertahanan mentalku menjadi
selembek ini, aku harus yakin kalau aku bisa mendapatkan apa yang ku mau , aku
tidak boleh terus berada dalam jeruji kemiskinan aku tidak mau kemiskinan yang
membekukan niatku untuk mundur dan berhenti mengejar cita-citaku. “ dek ini
sudah selesai “. Panggil petugas koperasi. Tersadar bahwa aku dari tadi melamun
memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan.
**
Memasuki
ruang guru yang penuh dengan siswa yang sibuk mencari kabar kelulusan aku mulai
memasang mata mencari-cari di manakah keberadaan bu dilla. Satu ruangan yang
mencolok mataku iya benar KESISWAAN suara lembut tawa bu dilla jelas sekali
terdengar ku coba mendekati pintu dan mengucapkan salam bermaksud memanggil bu
dilla untuk menyerahkan kertas fotocopy yang dari tadi ku jaga kerapiannya. “
nah kebetulan sekali, kemari kamu siti bapak mau berbincang denganmu”. Begitu
aneh bapak kepala kesiswaan yang selama ini ditakuti oleh murid-murid disekolah
memanggilku dan mau berbicara denganku wajahnya yang sangar berubah menjadi
sosok layaknya malaikat yang dipenuhi kelembutan, kakiku yang sedari tadi
gemetaran dan kaku sejenak menjadi lunglay dan lemas. “ baik pak, mau berbicara
apa ? tapi ini bukan karena saya melakukan pelanggaran di sekolahkan pak?”. Pertanyaan
aneh begitu saja keluar dari mulut bodoh dan gugup ini. “ bapak hanya ingin
menanyakan dimanakah rumahmu? Betulkah ayah dan ibumu seorang petani di kawasan
gunung signaling? Dan satu yang betul-betul ingin bapak tanyakan yaitu betulkah
kamu pergi ke sekolah menggunakan sepeda dan menempuh perjalanan 13 km?”. “
memang benar pak yang bapak tanyakan itu semuanya benar terjadi dikehidupan
saya, bolehkah saya tau pak apakah maksud dari semua pertanyaan bapak?”. “kami
mendapat kabar semua itu dari bu dilla, kami sungguh tidak percaya kalau kamu
rela menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer demi bersekolah disini begitu
juga dengan uang saku yang kamu terima setiap harinya saya rasa itu kurang dari
cukup untuk bisa sampai disekolah, kamu menahan lapar dan menggantinya hanya
dengan membeli segelas air mineral di siang hari karena uang sakumu yang
terbatas 2000, kamu kumpulkan uang itu demi membeli buku pelajaran disekolah
karena tidak ingin memberatkan beban ayah dan ibumu, bukankah begitu siti?
Bapak tersentuh ketika mendengar cerita bu dilla dimana sosok anak luar biasa
itu ada disekolah ini”. “ lalu apakah maksud dari semua ini pak saya semakin
tidak mengerti”. “ kami mengajukan satu siswa berprestasi yang berhak
mendapatkan pendidikan perguruan tinggi di kota dan setelah kami melakukan
rapat yang terpilih dari tiga orang siswa adalah kamu siti kamu berhak
mendapatkan semua ini”. Aku hanya bisa terdiam seketika air mataku mengalir
begitu saja entah itu perasaaan bahagia atau sedih aku juga tidak mengerti
jelasnya aku terbujur kaku ketika mendengar kabar itu. Hatiku ingin cepat-cepat
berpamitan pulang dan berloncat kerumah memberitahukan ini kepada ayah dan ibu.
Hari
menunjukkan jam 12 siang, jam dimana ayah dan ibu kembali kerumah untuk makan
siang, aku sudah tidak sabar dari tadi aku mondar-mandir seperti ingin buang
air kecil, hatiku berbunga-bunga mengkhayalkan bagaimana ekspresi wajah ayah
dan ibu ketika mendengar hal ini. “ siti ibu lihat kamu dari tadi mondar-mandir
tersenyum tidak jelas, adakah hal yang mengganggu pikiranmu anakku”. Ku
hempaskan pelukan penuh cinta kepada sosok ibu kurus kering seperti ikan asin
yang dijemur berhari-hari di tengah sawah dengan rambut hampir memutih dan
senyumnya yang ikhlas selalu mempercantik wajahnya iya dialah ibu rahimah
bidadari tercantik yang penuh kelembutan dikirimkan Sang Maha Kuasa untukku. “
ayah mana bu? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan tapi… ayah dan ibu harus ada
disini”. “ ada apa siti ayah ada disini, kelihatannya kamu bahagia sekali?”.
Satu lagi lelaki kuat yang rela banting tulang mencari kayu bakar memiliki tahi
lalat dipipinya yang tak pernah membuatku tertukar ketika mencari sosoknya
pijaran mata nya yang sendu dan halus membuatku tak pernah lupa akan sosok satu
ini ayahku pak ruslan namanya. “ siti mendapatkan beasiswa ayah,ibu minggu
depan siti berangkat ke kota untuk mengurus pemasukan ke perguruan tinggi”. “
Alhamdulillah… ini rezekimu nak pergunakanlah ini sebaik mungkin jangan
kecewakan sekolahmu yang sudah memilihmu”. Terlihat ibu yang berlinangan air
mata entah ibu sedih atau bahagia ku coba mendekatinya namun tak dihiraukan,
apakah ada yang salah dari omonganku ataukah ibu tidak suka aku mendapat
kesempatan ini tapi mengapa? Mungkin ku simpan saja dulu pertanyaan ini nanti
malam akan ku tanyakan pada ibu saat ibu sudah tenang.
**
Khayalanku
beranjak kembali kehidupan kota yang beberapa hari lagi akan ku rasakan apakah
nanti di kota lebih enak dari pada di desa, apakah teman-teman baruku nanti
akan menerimaku layaknya teman-teman sekolahku dulu?, terlalu banyak pertanyaan
dalam benakku hatiku menggumam senidiri.”siti mengapa belum tidur?”. “siti
menunggu ibu, siti hanya ingin menanyakan mengapa ibu tidak memberikan respon
apapun ketika siti mengatakan kabar gembira tadi?”.”ibu hanya sedikit sedih nak
bukan berarti ibu tidak senang ibu hanya berpikir apakah ibu bisa melepasmu
sementara ibu tidak pernah jauh darimu dari kamu kecil hingga sebesar ini, ibu
takut merasa sepi, ibu takut kamu sendiri disana”.” Tenanglah bu siti disana
akan baik-baik saja siti akan ditemani teman-teman sekampung yang juga kuliah
disana, ikhlaskan lah bu do’akan anakmu ini agar bisa menjadi kebanggaan ayah
dan ibu”. Ibu hanya terdiam dan menangis terisak-isak aku tak berani lagi
berbicara dengannya mungkin ibu masih belum bisa menerima semuanya, aku sungguh
tidak bisa tidur hati ini rasanya ingin melangkah menengok sepeda butut yang
tersandar disamping rumah hatiku berat rasanya meninggalkan temanku yang reot
ini yang senantiasa menemaniku setiap harinya yang menopangku pada badannya
yang sudah hampir rapuh, haruskah kutinggalkan dia? Tapi mau bagaimana lagi aku
tak bisa membawanya ikut denganku pekan nanti, air mata tak sengaja mengalir
membentuk aliran air yang tak berarah aku terlelap dengan mimpi berharap besok
akan lebih indah kujalani dari hal sulit ini.
Pagi
itu aku sudah mulai berhenti pergi kesekolah namun bukan berarti aku bisa
bermalas-malasan tidak bangun pagi, mengantarkan kue adalah kegiatanku sekarang
sebelum berangkat kekota, sesampai di warung ku suguhkan kue panas buatan ibu
kepada warga desa yang sedang mengobrol santai di pagi itu.” Eh siti, apakah
benar kamu mau kuliah dikota? Mengapa tidak disini saja dikotakan mahal? Apakah
ayah dan ibumu sanggup. Nada cetus itu sangat menyakiti perasaanku, ku tutup
telingaku dan beranjak mengambil sepedaku lalu pergi dengan derai air mata yang
tak sanggup kubendung, apakah anak orang miskin tidak berhak kuliah dikota
dendam itu memuncak dan aku tidak ingin memikirkannya hari yang ku tunggu tiba
aku berangkat kekota dengan tekadku yang bulat. Tidak ku hiraukan lagi ibu yang
tidak merelakan kepergianku, tidak ku perdulikan lagi omongan warga yang
mengejek dan menyakiti perasaanku itu.
Sesampainya
dikota aku tinggal di sebuah petak yang ukurannya lebih kecil dari kamarku di
desa dengan harga murah 400 ribu itulah uang yang harus ku cari untuk di
setorkan setiap bulannya, beban ini sungguh berat dalam hatiku hanya menggumam
kalimat allah “ BISMILLAHITAWAKKALTUALALLAH “ kuserahkan semuanya kepada sang
pengatur aku hanya menjalankan dengan ikhlas. Belum selesai ternyata kakiku
merasakan lelahnya berangkat ke tempatku belajar setelah berpuluh-puluh
kilometer di desa ku tempuh dengan mengayuh sepedaku sekarang dikota tanpa
sepedaku ku gunakan kakiku lagi untuk menempuh jarak yang lumayan jauh demi
sampai ketempat kuliah. Aku hanya berharap semua ini akan memberikan hasil yang
memuaskan untuk ku suatu hari nanti. Sekarang aku siti anak desa yang bermimpi
menjadi orang yang memiliki ilmu yang tinggi yang dihina oleh warga desanya
yang rela bersekolah dengan bersepeda berpuluh-puluh kilometer dan seorang anak
dari pasangan petani yang hidupnya melarat kini menjadi mahasiswi ENGLISH
DEPARTMENT FKIP UNLAM. Tidak ada hal yang sia-sia jika kita mau menjalani
prosesnya memang untuk mencapai sebuah kesuksesan akan banyak halangan dan
rintangan tapi semua itu akan berbalas kebahagiaan disuatu hari nanti tetaplah
percaya pada kemampuanmu jangan pernah berputus asa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar