Kamis, 10 Maret 2016

Cerita Pendek


Kakiku Penentu Masa Depanku

Embun kian basah bertabur di sela-sela dedaunan, angin seakan menari lembut, bebatuan, tanjakan menghiasi tiap meter perjalanan, kayuhan sepedaku ku percepat ketika ku tau hari mulai pagi dan fajar mulai menyingsing tersadar bahwa sepedaku telah melaju beberapa kilometer dari kediamanku. Inilah rutinitas yang ku jalani setiap harinya dalam beberapa tahun ini demi sebuah cita-cita yang mungkin hanya ada dalam khayalku. Tak ada yang terasa berat karena ini adalah ikhlas dari lubuk hatiku, tanggung jawabku sebagai seorang anak sepasang petani di pelosok desa yang berharap bisa berkuliah di kota membuat kokoh hati dan mental untuk tetap terus berjuang. “ Siti! “ warga desa memanggil “ sepagi ini mau sudah berangkat kesekolah? Apa tidak kepagian? “. “ tidak bu, saya sudah biasa lagi pula lebih baik saya berangkat pagi jadi saya tidak akan tergesa-gesa”. “ bukankah sekolah sudah tidak aktif lagi kan kalian sudah selesai ujian”. “ iya, memang benar bu saya kesekolah hanya mengurus tentang pendaftaran kuliah, permisi dulu ya bu  saya takut kesiangan”. Ku lanjutkan perjalananku menuju sekolah kuharap hari ini ada kabar gembira dari sekolah mengenai kuliahku.
Setiba di sekolah pagi itu tepatnya pukul 07.10 pagi, ku berhentikan kayuhanku di depan jalan kecil yang hanya muat satu orang beserta sepeda jika ada yang ingin mengeluarkan sepeda salah satunya harus mengalah begitulah kondisi parker sepeda di sekolahku sungguh memprihatinkan bukan?, kalah dengan parkir sepeda motor dewan guru dan anak-anak orang berduit yang juga memakai sepeda motor kesekolah. Namun ini bukan halangan besar untukku bersekolah, ku sosori jalan menuju kelas melewati kantor guru, melewati toilet dan menyapa petugas kebersihan sekolah adalah hal yang tidak pernah ku lewatkan setiap harinya. “ selamat pagi mas, semoga hari ini berkah ya “. “ iya dik siti , begitu juga denganmu”.  Tiba-tiba dari arah berlawanan terdengar suara serak-serak basah dengan nafas ngos-ngosan tidak salah lagi perawakan tinggi, kurus dengan jilbab khas beliau berbolang dan berkacamata bu dilla itulah panggilan untuk guru kesayanganku wali kelasku sendiri orang yang selama ini mati-matian mengurusiku agar aku tetap bisa bersekolah dan sekarang entahlah apakah yang beliau perbuat untuk membantuku masuk keperguruan tinggi. “ siti..siti..siti..”. “ iya bu, mengapa ibu terlihat begitu terburu-buru? Apakah ada hal ingin ibu sampaikan kepada saya?”. “ kalau ibu memanggilmu berarti ada sesuatu yang mendesak yang harus ibu beritahukan padamu, ini kamu fotocopy dulu seluruh nilai raportmu di koperasi sekolah”. “ untuk apa bu? Bukankah minggu kemarin ibu juga meminta saya memotocopy nilai raport?”. “ sudah simpan saja dulu pertanyaanmu sekarang cepat kekoprasi lakukan yang ibu suruh tadi, ok”. Dengan heran dan bingung ku lakukan saja apa yang diminta oleh bu dilla walaupun sebenarnya maksudku datang kesekolah hari ini adalah menemui beliau untuk menanyakan masalah beasiswa, apakah semua ini harus ku kubur dalam-dalam ? akankah mimpiku itu tidak akan menjadi nyata ? aah mengapa aku berpikiran seperti ini? Mengapa pertahanan mentalku menjadi selembek ini, aku harus yakin kalau aku bisa mendapatkan apa yang ku mau , aku tidak boleh terus berada dalam jeruji kemiskinan aku tidak mau kemiskinan yang membekukan niatku untuk mundur dan berhenti mengejar cita-citaku. “ dek ini sudah selesai “. Panggil petugas koperasi. Tersadar bahwa aku dari tadi melamun memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan.
**
Memasuki ruang guru yang penuh dengan siswa yang sibuk mencari kabar kelulusan aku mulai memasang mata mencari-cari di manakah keberadaan bu dilla. Satu ruangan yang mencolok mataku iya benar KESISWAAN suara lembut tawa bu dilla jelas sekali terdengar ku coba mendekati pintu dan mengucapkan salam bermaksud memanggil bu dilla untuk menyerahkan kertas fotocopy yang dari tadi ku jaga kerapiannya. “ nah kebetulan sekali, kemari kamu siti bapak mau berbincang denganmu”. Begitu aneh bapak kepala kesiswaan yang selama ini ditakuti oleh murid-murid disekolah memanggilku dan mau berbicara denganku wajahnya yang sangar berubah menjadi sosok layaknya malaikat yang dipenuhi kelembutan, kakiku yang sedari tadi gemetaran dan kaku sejenak menjadi lunglay dan lemas. “ baik pak, mau berbicara apa ? tapi ini bukan karena saya melakukan pelanggaran di sekolahkan pak?”. Pertanyaan aneh begitu saja keluar dari mulut bodoh dan gugup ini. “ bapak hanya ingin menanyakan dimanakah rumahmu? Betulkah ayah dan ibumu seorang petani di kawasan gunung signaling? Dan satu yang betul-betul ingin bapak tanyakan yaitu betulkah kamu pergi ke sekolah menggunakan sepeda dan menempuh perjalanan 13 km?”. “ memang benar pak yang bapak tanyakan itu semuanya benar terjadi dikehidupan saya, bolehkah saya tau pak apakah maksud dari semua pertanyaan bapak?”. “kami mendapat kabar semua itu dari bu dilla, kami sungguh tidak percaya kalau kamu rela menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer demi bersekolah disini begitu juga dengan uang saku yang kamu terima setiap harinya saya rasa itu kurang dari cukup untuk bisa sampai disekolah, kamu menahan lapar dan menggantinya hanya dengan membeli segelas air mineral di siang hari karena uang sakumu yang terbatas 2000, kamu kumpulkan uang itu demi membeli buku pelajaran disekolah karena tidak ingin memberatkan beban ayah dan ibumu, bukankah begitu siti? Bapak tersentuh ketika mendengar cerita bu dilla dimana sosok anak luar biasa itu ada disekolah ini”. “ lalu apakah maksud dari semua ini pak saya semakin tidak mengerti”. “ kami mengajukan satu siswa berprestasi yang berhak mendapatkan pendidikan perguruan tinggi di kota dan setelah kami melakukan rapat yang terpilih dari tiga orang siswa adalah kamu siti kamu berhak mendapatkan semua ini”. Aku hanya bisa terdiam seketika air mataku mengalir begitu saja entah itu perasaaan bahagia atau sedih aku juga tidak mengerti jelasnya aku terbujur kaku ketika mendengar kabar itu. Hatiku ingin cepat-cepat berpamitan pulang dan berloncat kerumah memberitahukan ini kepada ayah dan ibu.
Hari menunjukkan jam 12 siang, jam dimana ayah dan ibu kembali kerumah untuk makan siang, aku sudah tidak sabar dari tadi aku mondar-mandir seperti ingin buang air kecil, hatiku berbunga-bunga mengkhayalkan bagaimana ekspresi wajah ayah dan ibu ketika mendengar hal ini. “ siti ibu lihat kamu dari tadi mondar-mandir tersenyum tidak jelas, adakah hal yang mengganggu pikiranmu anakku”. Ku hempaskan pelukan penuh cinta kepada sosok ibu kurus kering seperti ikan asin yang dijemur berhari-hari di tengah sawah dengan rambut hampir memutih dan senyumnya yang ikhlas selalu mempercantik wajahnya iya dialah ibu rahimah bidadari tercantik yang penuh kelembutan dikirimkan Sang Maha Kuasa untukku. “ ayah mana bu? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan tapi… ayah dan ibu harus ada disini”. “ ada apa siti ayah ada disini, kelihatannya kamu bahagia sekali?”. Satu lagi lelaki kuat yang rela banting tulang mencari kayu bakar memiliki tahi lalat dipipinya yang tak pernah membuatku tertukar ketika mencari sosoknya pijaran mata nya yang sendu dan halus membuatku tak pernah lupa akan sosok satu ini ayahku pak ruslan namanya. “ siti mendapatkan beasiswa ayah,ibu minggu depan siti berangkat ke kota untuk mengurus pemasukan ke perguruan tinggi”. “ Alhamdulillah… ini rezekimu nak pergunakanlah ini sebaik mungkin jangan kecewakan sekolahmu yang sudah memilihmu”. Terlihat ibu yang berlinangan air mata entah ibu sedih atau bahagia ku coba mendekatinya namun tak dihiraukan, apakah ada yang salah dari omonganku ataukah ibu tidak suka aku mendapat kesempatan ini tapi mengapa? Mungkin ku simpan saja dulu pertanyaan ini nanti malam akan ku tanyakan pada ibu saat ibu sudah tenang.
**
Khayalanku beranjak kembali kehidupan kota yang beberapa hari lagi akan ku rasakan apakah nanti di kota lebih enak dari pada di desa, apakah teman-teman baruku nanti akan menerimaku layaknya teman-teman sekolahku dulu?, terlalu banyak pertanyaan dalam benakku hatiku menggumam senidiri.”siti mengapa belum tidur?”. “siti menunggu ibu, siti hanya ingin menanyakan mengapa ibu tidak memberikan respon apapun ketika siti mengatakan kabar gembira tadi?”.”ibu hanya sedikit sedih nak bukan berarti ibu tidak senang ibu hanya berpikir apakah ibu bisa melepasmu sementara ibu tidak pernah jauh darimu dari kamu kecil hingga sebesar ini, ibu takut merasa sepi, ibu takut kamu sendiri disana”.” Tenanglah bu siti disana akan baik-baik saja siti akan ditemani teman-teman sekampung yang juga kuliah disana, ikhlaskan lah bu do’akan anakmu ini agar bisa menjadi kebanggaan ayah dan ibu”. Ibu hanya terdiam dan menangis terisak-isak aku tak berani lagi berbicara dengannya mungkin ibu masih belum bisa menerima semuanya, aku sungguh tidak bisa tidur hati ini rasanya ingin melangkah menengok sepeda butut yang tersandar disamping rumah hatiku berat rasanya meninggalkan temanku yang reot ini yang senantiasa menemaniku setiap harinya yang menopangku pada badannya yang sudah hampir rapuh, haruskah kutinggalkan dia? Tapi mau bagaimana lagi aku tak bisa membawanya ikut denganku pekan nanti, air mata tak sengaja mengalir membentuk aliran air yang tak berarah aku terlelap dengan mimpi berharap besok akan lebih indah kujalani dari hal sulit ini.
Pagi itu aku sudah mulai berhenti pergi kesekolah namun bukan berarti aku bisa bermalas-malasan tidak bangun pagi, mengantarkan kue adalah kegiatanku sekarang sebelum berangkat kekota, sesampai di warung ku suguhkan kue panas buatan ibu kepada warga desa yang sedang mengobrol santai di pagi itu.” Eh siti, apakah benar kamu mau kuliah dikota? Mengapa tidak disini saja dikotakan mahal? Apakah ayah dan ibumu sanggup. Nada cetus itu sangat menyakiti perasaanku, ku tutup telingaku dan beranjak mengambil sepedaku lalu pergi dengan derai air mata yang tak sanggup kubendung, apakah anak orang miskin tidak berhak kuliah dikota dendam itu memuncak dan aku tidak ingin memikirkannya hari yang ku tunggu tiba aku berangkat kekota dengan tekadku yang bulat. Tidak ku hiraukan lagi ibu yang tidak merelakan kepergianku, tidak ku perdulikan lagi omongan warga yang mengejek dan menyakiti perasaanku itu.
Sesampainya dikota aku tinggal di sebuah petak yang ukurannya lebih kecil dari kamarku di desa dengan harga murah 400 ribu itulah uang yang harus ku cari untuk di setorkan setiap bulannya, beban ini sungguh berat dalam hatiku hanya menggumam kalimat allah “ BISMILLAHITAWAKKALTUALALLAH “ kuserahkan semuanya kepada sang pengatur aku hanya menjalankan dengan ikhlas. Belum selesai ternyata kakiku merasakan lelahnya berangkat ke tempatku belajar setelah berpuluh-puluh kilometer di desa ku tempuh dengan mengayuh sepedaku sekarang dikota tanpa sepedaku ku gunakan kakiku lagi untuk menempuh jarak yang lumayan jauh demi sampai ketempat kuliah. Aku hanya berharap semua ini akan memberikan hasil yang memuaskan untuk ku suatu hari nanti. Sekarang aku siti anak desa yang bermimpi menjadi orang yang memiliki ilmu yang tinggi yang dihina oleh warga desanya yang rela bersekolah dengan bersepeda berpuluh-puluh kilometer dan seorang anak dari pasangan petani yang hidupnya melarat kini menjadi mahasiswi ENGLISH DEPARTMENT FKIP UNLAM. Tidak ada hal yang sia-sia jika kita mau menjalani prosesnya memang untuk mencapai sebuah kesuksesan akan banyak halangan dan rintangan tapi semua itu akan berbalas kebahagiaan disuatu hari nanti tetaplah percaya pada kemampuanmu jangan pernah berputus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar